SENTUHAN PERUBAHAN
Kenalkah
kalian dengan SUJU, SNSD, Justin biber? Lagu-lagu tenar mereka? Pasti kalian
juga tau kan darimanakah mereka berasal? Kalian kan anak gaul, mana mungkin gak
tahu hal kaya gitu. Tapi, sejajar dengan hal itu semua, apakah kalian juga
kenal dengan tari tor-tor? Tari pendhet? Lagu injit-injit semut ?
Yaah
mungkin begitulah anak remaja macam jaman sekarang ini, mereka selalu
mendewakan bintang-bintang mereka yang berasal dari luar negeri, sampai-sampai
tahu seluk beluk yang ada di negara sang bintang. Namun, ironisnya mereka tak
tahu sama sekali tentang keadaan di tanah yang sedang mereka pijak.
Banyak
dari kita yang sering meniru gaya mereka. Entah pakaian, gaya rambut, bahkan
sebisa mungkin membuat diri mereka tampak seperti bintang yang diimpikan, bagaimanapun
caranya.
Kalau
sudah begitu, gak salah dong ketika negara-negara tetangga yang melirik dan
tiba-tiba sekenanya merampas hak budaya milik kita. Salah siapa coba kalau
terjadi yang begituan? Salahkah mereka? Gak! Tapi dasar dong, itulah salah kita.
Salah kita para remaja penerus bangsa. Bagaimana negara kita bisa kaya akan
budaya kalo kita aja gak mau melestarikannya. Bagaimana kita bisa idup damai
tanpa adanya peperangan kalo kita aja gak pernah melirik budaya kita sendiri.
Kita
para remaja yang notabenya sebagai penerus bangsa, seharusnya melakukan sedikit
perubahan atas diri kita masing-masing. Kita harus menyadarkan diri kita akan
pentingnya budaya itu sendiri. Sebenarnya negara kita ini kaya akan budaya,
dari sabang sampai merauke pun pasti ada, misalnya tari-tarian, seni teater,
seni musik campursari, atau sejenis barang seperti batik, wayang-wayangan, dll.
Kalo
kita mau menjelajahinya, sebenarnya budaya yang kita punyak gak kalah saing
sama budaya barat. Nyatanya banyak juga turis yang melihat dan merasa tertarik
akan budaya kita. Dan tak canggung-canggung mereka pun mendekati dan
mempelajari sedikit demi sedikit. Nah kalo uda begitu, harusnya kita malu
dengan diri kita sendiri. Mereka para turis aja sampai merangkul budaya kita,
sedangkan kita yang notabenya sebagi pemilik budaya malah gak tau apa-apa akan
milik kita sendiri. Maka dari itu, kita harus mengembalikan minat akan budaya
mereka sendiri.
Pasti
kalian uda kenal dengan Batik Carnaval.?
Yap,
batik carnaval adalah salah satu contohnya. Acara yang sudah lumayan terkenal
ini sering diaksikan di Solo dan Jogjakarta. Sedangkan Solo dan Jogjakarta
termasuk kota budaya. Di batik carnaval ini, kita bisa melihat ragam
kebudayaan, antara lain yang sudah pasti keseluruhan dipakai oleh pementas carnaval,
yakni batik. Dulunya batik gak setenar kayak sekarang ini, batik hanya
digunakan sebagai jarik dan dipakai dalam adat pernikahan. Tapi sekarang?
Nyatanya batik uda terkenal di seluruh penjuru pelosok negri. Sebenarnya kita
hanya perlu memberikan sedikit sentuhan, maka akan berubahlah menjadi setenar
ini. Dan di batik carnaval jugak ada semacam tari-tarian budaya yang agaknya
akan segera luntur karena tak terjamak oleh tangan-tangan penerus bangsa ini.
Contoh
laen seperti lagu-lagu jawa, lagu-lagu campursari. Di saat ini jugak ada
seperti Bossanova Jawa. Yakni lagu-lagu tersebut di buat genre jazz. Sehingga
menjadi jazz jawa. Lagu-lagu lawas seperti Sewu Kuto, Bengawan Solo, Tanjung
perak, dll sekarang dikemas secara apik dan memberi kesan yang dijamin tak akan
membosankan.
Selain
itu, kita juga bisa mengadakan suatu event yang pasti. Yang memberikan tontonan
tentang budaya kita. Dibuat sebagaimana mungkin agar tidak membosankan. Kalo
gak, kita bisa mencontoh yang diatas tadi, berikan aja sedikit sentuhan .. :)