Haruskah kao mengacuhkan ku kawan?
Kawan?? o.O
Yah.. semoga saja sebutan itu masih pantas untuk mu, walopun kadang ku ingin menyebut mu dengan ‘LUZER’ [baca: pecundang]. Namun, hati kecilku tetap bersua bahwa kao lah kawan. .
Kawan, haruskah kao bersikap kasar dan acuh pada ku? Inikah balasan atas kesabaranku kali ini?
Berawal atas kejadian 290212 itu, kao tak lupa kan kawan? aku yakin kao tak kan pernah melupakan atas kejadian itu. Setelah kejadian itu aku sangat membencimu, sangat dan sangat. Kawan, yang menurutku dialah orang terpandang, dialah panutan, dialah orang yang pantas aku hargai...tapi ternyata dia tak laen hanyalah buaian belaka. Kao pengecut kawan!! pengecut!!
Teman yang dulunya aku anggap kao lah satu-satunya teman cewek yang berpikir secara terbuka, secara realitis tanpa fiktif sedikitpun, teman yang ada saat aku galao, dan teman yang selalu mengajari aku dalam segala aspek. Ternyata....dia maya [ :O ]!! Kao palsu teman! Kao bermuka dua! Ternyata selama ini aku kao bodohi, aku salah. Kao lah ternyata orang yang paling fiktif yang pernah aku kenal!! Apakah hanya karena sebuah film kao jadi begini?! Sungguh memalukan! Dari awal kao cerita, aku uda ngerasa kao emang bener-bener terbawa arus film itu. Kao bodoh kawan!! bodoh!! Bodohnya dirimu hingga film yang jelas2 fiktif itu pun kao jadikan nyata.
***
Hari nian cepat berlalu. 290212 pun tlah ku tinggal pergi dan aku berharap kejadian ini takkan berulang lagi. Dan ku mulai songsong hari-hari tanpa dirimu. Aku senang kawan..sungguh senang. Entah mengapa tanpa adanya dirimu aku bangga. Padahal kita tau, apalah sebuah rumah tanpa adanya pintu. Seperti itulah gambaran akan kelas kita. Apalah sebuah kelas jika ada 1 orang yang tak ada. Nmun entah karena apa aku malah enjoy2 aja tnpa ada dirimu.
Namun, hingga suatu hari, rasa senang ku pun lenyap setelah guru kita, guru yang dulunya sangat kao banggakan, namun akhirnya kao khianati juga. Apakah kao tau apa yang dikatakan sang guru kawan? beliau bilang bahwa kao bakalan masuk skola lagi.
Apa?!
Kao?!
Seorang pengecut itukah?
Oh my God.. mungkin dunia bakalan ancur.
Kenapa kao datang kawan? kenapa?
Tawa ku kini pun sirna dan berubah jadi sebuah asa. Hingga kao tau? Kebencian itu tumbuh kembali..
Huft.. aku pun jadi malas menjelang hari esok. Karena hari esok adalah hari ku bertemu dengan kawanku, yang tak laen yaitu kao.
Hari H pun datng, kebencian ku semakin meluap. Tapi ternyata,, apa yang terjadi kawan? taukah kao?
Melihatmu aku pun jadi luluh [ =’) ]. Hati yang yang sempat memberontak kini berubah drastis menjadi haru biru. Entah kenapa hati ini merasakan rindu padamu. Sangat rindu..dan kebencian pun hilang, bener-bener hilang entah ke negeri seberang mana. Aku rindu kao teman.. rinduuuu....
Ingin ku segera berlari menuju arahmu, dan kusambut kao dengan senyuman yang belum pernah ku sunggingkan selama ini.
Tapi kawan,, kao tampak beda ternyata.
Kao terlihat sangat kasar, dari jalan, berpenampilan, kao seperti.... yah.. tokoh di film itu.
Ohh kawan, benarkah kao terobsesi dengan tokoh itu? Oke, terserah kao terobsesi atao gak,toh bukan urusanku. Namun haruskah kao berlagak seperti in? Aku menjadi sedikit muak kawan -____-
Sudahlah, itu tak penting, yang penting hati ini. Hati ini serasa ingin cepat-cepat menyapa dirimu.
Hati ini sudah tak terbendung lagi untuk menyapamu..
dan kini tiba saatnya saat kao menyalurkan kertas-kertas soal. hatiku makin tak karuan [dag dig dug].
saat detik-detik kao menoreh ke belakang, mulutku pun telah terbuka untuk menyebut namamu..
N...............?!! >,<
tapi..... apa kao sadar apa yang telah kao lakukan padaku kawan?!! hati ini serasa tlah lepas dari genggamanku. Hatiku sakit kawan. sakiiiiittt sekali
sekarang aku tanya! Memangnya apa yang telah aku lakukan kepadamu kawan?? apa?? Apakah aku menyakitimu? Apakah aku menginjak-injak harga dirimu? Apakah aku telah berbuat dosa kepadamu hingga aku mendapatkan karma seperti ini?
Inikah balasan dari mu kawan?? balasan atas kesetiaan ku padamu? Balasan atas hati kecil ini yang ingin menyapamu? balasan atas sapaan manis yang ingin ku keluarkan dari bibir ini kepadamu disaat teman yang lain mencemoohmu? Heeee????!!!
Inikah balasan dari mu kawan? Sehina itu kah diriku hingga menorehpun tak kao lakukan?! Oke, kao tak menoreh pun tak apa, tapi tak bisakah kao sedikit ramah padaku?! Haruskah kao sekasar itu?
Gertakan suara kertas itu membuat hatiku kecut. Hati ini sakit, tapi lebih sakit saat ku pandang kertas itu. Haruskah kao lempar dengan kasar kertas suci itu? Kertas itu tak bersalah kawan, TAK SALAH. Dia tak ada sangkut pautnya dengan keadaan mu yang sekarang. Tapi kenapa kao ikut sertakan ia dalam gejolakmu?! Apa kao tak punya malu?!
Dan entah mengapa.. air mata ini tak bisa ku bendung lagi. Air mata ini deras membanjiri wajah yang tadi sempat tersenyum kepadamu.
Heii kawan, bukankah kita berteman hampir genap 2 tahun?? Ya.. 2 thun,.waktu yang cukup lama menurutku..sangat lama..dan biasanya dengan waktu yang selama itu, 2 orang berkawan pasti telah mengerti keadaan teman yang laen. Dan aku pun yakin kao telah mengenalku secara keseluruhan.
Dan aku pun yakin, kao telah mengerti aku bahwa aku ini adalah wanita RAPUH, wanita CENGENG!! Tapi mengapa kao setega ini kawan?? bukankah kao tau, bahwa semacam ini pasti membuatku sakit hati dan menangis!! Taukah itu kao kawan?
Namun, tiada gunalah air mata ini. Bodoh sekali aku , membuang sia-sia air istimewa ini ika hanya untuk menangisi seorang kawan layaknya kao.
Hingga beberapa waktu berlalu, hatiku yang sempat pudar karena mu telah kembali menyatu. Dan tak kusangka, sepengembalian hatiku ini ternyata masih mebuatku penasaran untuk menyapamu. Dan akhirnya ku urungkan niat ingin membencimu, kan ku pendam semua rasa jengkel itu. Ku lakukan semua demi kao.
Lalu ku bernafas dan ku keluarkan CO2 ini seraya ku kembangkan senyum dari bibir ini, dan aku yakin aku akan berbicara dengan mu.
Sebelum hal bodoh yang aku ku lakukan itu, aku bertanya pada steman-temanku. Bgagaimana pendapat mereka jka aku mengakak kao bicara. Dan taukah kao apa jawaban mereka?? Kebanyakan dari mereka ragu akan hal bodoh ini. Tapi TIDAK untukku! Hati ini, hati ini teteap bersikeras untuk mengetok pintu hatimu.
Hingga hari H pun datang [jeng jeng jeng], saat keluar dari penjara ujian, ternyata kao masih diluar sembari packing-packing .. ih wow gak biasanya hloh kamu gini, biasanya langsung ngeblandang pergi seperti jet. Kao masih disini aku lega. dan saat ku panggil namamu, bibir ini bergetir tak karuan, tangan menjadi kian membeku dan hati berharap kao buka pintu hati mu.
Namun,, ternyata tak ada respon positip darimu. Aku pikir kao tak mendengarkan sayup-sayup suaraku. Hjingga ku ulang beberapa kali lagi untuk memanggilmu, namun tetap nihil !! Menoreh pun tak kao lakukan. Tapi, aku tak putus asa. Dan saat ku membuka bibir ini lagi, dan akan mengatakan sesuatu, kao pergi kawan!! kao pergi!! Heii teman macam apa ini?! Apa kao tak punya perasaan?! Dimana hati nurani mu saat kini?
Sakiit hati ini kawan!! sakiiiiiiiiiiiittttttttttttttttttttt sekali, panah yang kao sasarkan kepadaku benar-benar menancap dan menembus hingga dasar relung hatiku.
Kawan.. tak bisakah kao membuka pintu mu? Ayo kawan.. ayo.. tunjukkan padaku kao masih pantas untuk ku panggil dengan sebutn KAWAN.
Ohya, ingatkah kao pada 290212 laulu?? Pesan kesan yang kao lanturkan untukku, ‘untuk Ucin, moga bisa jadi tambah dewasa, jangan kaya anak kecil lagi’
Makasih kawan, makasih untuk lantunan do’a mu kepadaku. Tapi kawa, kLo boleh ngoment, mungkin do’a itu lebih tepat [lebih layak] untuk doa’in kamu sendii. Karena, asal kam tau aja, orang dewasa gak akan mungkin ngelakuin hal bodoh seperti apa yang kao lakukan!! Layaknya orang dewasa, pastinya bisa berpikir jauh. Oooh...atau mungkin kao berpikir terlalu jauh kawan
Dan ingatkah kao juga ada 1 pesan kesan untuk seorang teman. Sebut saja ‘A’. kao berkata, “buat A, jangan bermuka 2 yaa.” Hoo... mungkin do’a itu juga lebih pantas untuk mu teman.
***
Hembtt.....entahlah apa yang terjadi padamu.
Namun 1 hal yang aku ingin kan, kembalillah ke pikiran jernih mu kawan,
dan bersikaplah seolah kao kawan ku.
***
dan aku sangat berharap kita dapat sperti mereka